Perahuku Bermuara
Perahuku Bermuara
Entah harus sedih atau senang mendapatinya. Tapi perahuku
sebentar lagi bermuara. Dia akan bertepi di tempat yang sudah ditentukan oleh
Allah SWT.
Kamu tahu gak? Selama 5 bulan aku di samudera dengan
rintangan yang besar. Ada monster laut, ada binatang laut, ada juga kalanya
ombak tenang, dan badai yang menerpa.
Aku bersama 11 lainnya di satu kapal besar. Satu kapten
yang mengetuai jalannya sang kapal. Dengan segala kearifannya dan kesediannya
dalam mengurusi kami bersebelas.
Sendiri aku dari rumahku, hanya berbekal doa orang tua
dan kepercayannya. Keduanya sangat sayang kepadaku. Bukan berarti ia tega
membiarkan aku berlayar.
Bulan pertama pelayaran, diri ini masih menyesuaikan sang
ombak. Kapalku kadang terombang ambing dan tidak menentu. Bertemu dengan kapal
lainnya. Dan bertukar apa yang kami bawa di dalam kapal. Mual dan pusing adalah
gejala yang sering dihadapi di bulan pertama.
Lalu, bulan kedua. Bulan ini kami mulai menemukan apa
yang kami mau. Apa yang kami pegang. Dan kemana arah ini berlanjut. Masih
beradaptasi. Tidak bisa semudah itu dalam mengarungi lautan.
Di bulan kedua, jarang tangisan yang aku keluarkan.
Bahkan lelah. Bukan berarti tidak minat untuk menangis. Sebenarnya hati ini
mudah tersentuh. Tapi ya bagaimana. Masa aku menangis melulu?
Kau tahu apa alasan aku menangis? Itu karena Orang Tua.
Raga mungkin menampakkan bahwa aku kuat. Tapi jiwa ini sering merindukan
beliau. Samudera ini jauh. Kadang sinyal tak terdeteksi. Kadang pertanyaan
muncul menjadi satu pilu. Aku rindu beliau.
Bulan ketiga. Apa yang aku butuhkan sih sebenarnya? Aku
semakin ragu dengan kapal ini. Ombak menerjang tak henti juga. Tidak sedetik
pun kami diajak beristirahat. Bertabrakan dengan karam. Melewati batas aman.
Tapi kami tetap berjuang. Berusaha mempertahankan keseimbangan sang kapal.
Mau kemana arah ini? Mengapa aku tidak yakin dan bimbang
atas nasib sang kapal? Kenapa pula lebih sering mual di bulan ketiga. Argh.
Kenapa??
Ku tenangkan diri ini dengan meminta petunjuk-Nya. Tapi
aku masih belum bisa menemukan jawabannya. Masih terombang-ambing. Masih
menyepi dalam sepinya hati.
Satu pertanyaan yang masih menggantung. Jadi apa kelak
ketika aku sampai disana? Apa aku masih harus melanjuti kapal selanjutnya? Atau
beristirahat dulu di daratan pertama yang akan aku tapaki tiga bulan
selanjutnya?
Tidak ada kata istirahat! Kata tenang pun masih jauh dari penglihatan. Memasuki bulan ke-empat, aku semakin banyak mendapat ilmu diimbangi pula dengan problema yang tidak kalah banyaknya.
Dua bulan lagi. Sisa ini. Mau kau pakai dengan bijak atau hanya sia-sia? Apa kau tidak merasa menyesal jika dua bulan berjalan begitu saja tanpa ada pengorbanan yang berarti?!
Pertanyaan itu menyesakkan dadaku. Memikirkannya membuatku merasa ingin menyelam saja di laut ini. Biar tangan-tangan Sang Kuasa saja yang menentukan semuanya. Aku sudah muak!!
Digamparnya aku oleh monster laut yang entah datang darimana. Dia mendatangiku sambil berseru, "Jangan menyerah demi masa depanmu!."
MASA DEPAN?
Kalau ku tak punya cita-cita, ku pasti gagap dengan 'Masa Depan'
Kupastikan seruannya menjadi suatu kenyataan yang akan ku gapai sepenuh hati. Walau kadang ombak masih enggan berteman, binatang laut yang besar menghantam, dan cuaca yang buruk.
Doakan saja semoga perahu ini bermuara. Ya. Perahuku Bermuara. Ketika genap 6 bulan berlayar.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKeren
BalasHapusmakasih lili.. keep support yaa :)
Hapus