Shut UP!
Shut UP!
Ku ingin marah. Melampiaskan apa yang selama ini aku rasakan.
Pahit.
Ketir.
Jengkel.
Risih.
Biadab.
Sungguh.
Tidak senyaman yang dulu.
Tidak seasik pertama.
Sindiran.
Cacian.
Munafik.
Omong kosong.
Memenuhi ruang lingkup otak ini.
Sumpah.
Aku ingin pergi saja dari sini.
Pergi dari orang-orang yang bisanya cuma nyindir, menyipitkan mata dan berlaga seenaknya,
Tapi tahan, sebentar lagi pun kami akan berpisah.
Untung-untung secepatnya saja deh,
Dari kecil, Ibuku tidak mengajari caranya merendahkan orang.
Apalagi membicarakan orang dibelakangnya.
Aku mendapat banyak pelajaran dari orang lain.
Disekitarku.
Mereka mengajariku bagaimana untuk tidak mencibir, mengejek dan merendahkan.
Banyak orang bermuka dua datang kepadaku, membicarakan ini itu yang tidak ingin aku dengar.
Aku cuek.
Peduli amat.
Buat apa mikirin orang lain?
Buat apa bongkar kesalahan orang?
Buat apa gosipin yang lain?
Buat buktikan kepada pendengar bahwa kamu lebih great daripada yang kamu omongin?
Oh jelas.
Bodoh.
Gurls,
kalian ini cantik.
Tapi bisakah bibir kalian ikut cantik?
Well, aku memang gak sempurna.
Jelas.
Jauh dari kata sempurna.
Bahkan aku lebih rendah dibanding kalian.
Tapi apa salahnya untuk menahan bibir mengucapkan keburukan orang?
Menyindir?
Menyipitkan mata?
Itu salah?
Sudah banyak hati yang kamu sakiti loh.
Aku kasih tau aja.
Mereka bilang ke aku,
dan mereka hanya bisa bersabar.
Tapi ga tau apa yang harus mereka katakan?
Sekali ku pernah melihat orang itu mencibir diri ini,
dan langsung aku tanya telak dihadapannya.
Maksud kamu apa bikin orang lain ga nyaman?
Situ OK?
Ups.
Sorry.
Cuma nanya doang kok , hehe.
Padahal,
kalau balas dendam itu dihalalkan,
aku mau berbicara ke semua orang tenrtang kamu.
Iya kamu,
Yang selalu mencibir mulutnya.
Karena ya,
Sering aku berpaspasan dengan hal buruk yang kamu lakukan.
Pikiran ambigu.
Omong kosong.
Bualan.
Ugh, can you shut up your fucking mouth?
Muak lah.
Leave a Comment